Punclut alias puncrut begitu orang Bandung sering bilang adalah nama satu tempat di utara kota Bandung. Kalau tidak salah, pernah salah satu TV swasta meliput tempat ini. Aku sendiri hampir lupa-lupa ingat. Seingatku, waktu aku masih SD pernah berkunjung kesana. Itu pun tujuan sebenarnya bukan maen, melainkan ikut babe nemenin mama yang waktu itu diopname di Rumah Sakit TNI AU Salamun.
Malem minggu ini (hiks...) aku diajak temenku nginep di daerah Ledeng. Dia berencana untuk jalan2 pagi keesokan harinya ke Puncrut by foot dari Ledeng. Setahuku jauh banget perjalanan dari Ledeng ke Puncrut. Dia bilang, katanya ada jalan tembus dari Ledeng. Masuk akal juga, karena Ledeng juga terletak di utara kota Bandung. Jika melalui jalan besar, rute yang kan kita lalui akan membentuk huruf U. Dilandasi rasa penasaran akan rupa Puncrut saat ini, aku mengamini ajakan temanku.
Pagi ini kita menyusuri jalan, dimulai dari jalan sersan surip (jalan kecil sebelah terminal Ledeng). Karena ini adalah perjalanan temanku untuk pertama kalinya, hampir setiap orang di tiap persimpangan jalan dia tanyai untuk mendapatkan jalan yang benar. Ternyata, jauh sekali. Setelah beberapa lama kita menyusuri jalan, kita baru ngeh kalo jalan yang kita lalui ternyata berbelok-belok seperti gelombang sinusoid (alah...). Yang berarti kita sebenarnya tidak melalui jalan pintas tetapi malah jalan yang panjang. Weleh...weleh...
Sepanjang perjalanan, ada kita temui jalan mendaki adapula jalan menurun dan mendatar (seperti hidup...). Ada juga kita dapati jalan dengan tanah yang lekat seperti lumpur, yang membuat kita berjalan pelan agar tidak terpeleset. Walaupun begitu, kaki kita tetap saja tidak bisa remain clean, karena tanah lekat mengotori kaki kita. Untungnya di depan, ada kita temukan tempat untuk membersihkan kaki. Di tempat itu ada beberapa selang yang menempel pada dinding, di atasnya ada botol-botol plastik bekas air minum kemasan untuk menampung air. Awalnya aku gak ngerti gunanya botol plastik di ujung selang. Setelah aku susuri ternyata air yang mengalir ini berasal dari selang-selang sebelumnya, sedangkan asal air itu dari mana, sampai saat ini aku belum tahu. Karena yang buat aku penasaran juga, aku lihat kemudian sepanjang jalan banyak kulihat selang-selang kecil sambung menyambung. Salah satu ujung ada yang tertanam ke dalam tanah kemudian aku temui ada selang yang menyembul dari tanah. Apakah itu sambungan dari selang sebelumnya, aku sendiri gak tahu karena sambungan selang - selang itu tidak hanya satu sambungan, tetapi banyak sambungan yang terkumpul seperi helai-helai rambut. Yang pasti, penduduk di daerah itu sangat mengandalkan air dari satu sumber alias tidak mempunyai sumber air di rumah sendiri seperti kebanyakan penduduk kota.
Jika mendengar Puncrut temanku sering membayangkan dia akan mendapati sebuah bukit dimana dia akan menghirup udara segar dengan pemandangan gunung-gunung terhampar luas dan aku sendiri membayangkan dapat melihat kota Bandung dari atas Puncrut. Di luar dugaan, ternyata Puncrut dipenuhi pedagang-pedagang mingguan yang bisa kita jumpai di tempat lain seperti Gazeeboo. Pedagang tumpah ruah di setiap sisi jalan menanjak yang kita lalui. Walaupun demikian, kita tidak patah semangat untuk melanjutkan Ekspedisi Puncrut ini (Cie...harusnya masuk Jejak Petualang neh... )
Setelah beberapa lama sambil melihat barang dagangan di sekitar, kita tidak menemukan secercahpun harapan yang telah kita bayangkan. Karena sudah lelah akhirnya kita berhenti untuk beristirahat dan makan. Aku sedikit berbasa-basi dengan Ibu pedagang makanan, menanyakan apa yang kira-kira akan kita temukan selanjutnya. Ternyata kita tidak akan menemukan pemandangan yang aku bayangkan ataupun bukit yang dibayangkan temanku. Aku masih ingat kata ibu itu "Ah, neng teu aya nanaon dugi kaluhur mah. Upami Nu icalan, seueur!" Seketika lidahku tercekat, dan menoleh ke temanku yang sedang duduk agak jauh dari tempatku mengobrol dengan ibu pedagang. "Bo, di atas mah ga da pa pa. Abis makan kita pulang aja, yuk" (Padahal mah dah pengen pulang dari tadi karena capek...hihi).
Akhirnya kita pulang dengan hati yang menciut karena mengharapkan sesuatu yang ternyata jauh dari realita.
Sunday, December 23, 2007
Tuesday, November 27, 2007
Terima Kasih... Mang!
Suatu malam, aku mengendarai "mime" ku yang sebentar lagi lunas ! Saat itu, aku memacu si mime dengan kecepatan yang tinggi (menurut ukuranku) agar segera sampai di rumah karena malam sudah semakin larut. Aku tidak banyak mengalami hambatan karena jalan yang ku lalui tampak lengang, tentu saja...
Setelah melewati 3/4 rute pulang, tiba-tiba bagian belakang si mime agak terasa bergoyang, seketika aku menyadari kalo ban belakangnya bocor. Aku memperlambat laju si mime dan menepi untuk melihat sekeliling barangkali menemukan tukang tambal ban, dan ternyata nihil. Tak lama kemudian, ada seorang bapak keluar dari dalam rumah menghampiriku, mungkin karena dia melihat aku kebingungan. Dia pun bertanya apakah aku mencari sesuatu atau sesiapa. Aku memberitahu dia bahwa aku sedang mencari tambal ban. Dia menunjuk ke suatu tempat yang....Alhamdulillah tidak jauh dari tempatku berada. Setelah mengetahui tempat tersebut, aku memutar arah dan dengan pelan menuju tempat tambal ban setelah berpamitan dan tidak lupa say thank u.
Setibanya disana, aku langsung memarkirkan si mime dalam antrian yang tidak panjang (tentu saja karena cuma ada satu motor yang bannya sedang ditambal). Tak lama kemudian giliran si mime yang ditambal. Si Mang dengan sigapnya membongkar ban dalam mime, dan memeriksa kebocoran yang dialaminya. Hasil pemeriksaan menunjukan banyak sekali bocor yang ada di ban dalamnya akibat tertusuk paku dan ban dalam terlipat. Setelah mengetahui hal itu, aku tahu bahwa tak ada gunanya menambal ban dalam karena seharusnya ban dalam tersebut diganti. Aku mengemukakan keinginanku untuk mengganti ban dalam, dan Alhamdulillah si Mang mempunyai stok ban dalam mio karena biasanya jarang ditemukan tempat tambal ban yang menyediakan ban dalam mio. Kemudian aku menanyakan harganya, dan aku agak tercengang...karena uang yang aku punyai kurang untuk membayarnya. What should I do?
Tanpa berpikir lama, aku meminta si Mang agar memasang dulu ban dalam nya dengan menyerahkan selembar uang 20rb an dan meminta izinnya untuk berhutang dulu dengan menjanjikan sisa hutangku akan dibayar besok pagi saat aku pulang kerja (agak memelas...). Dan Si Mang mempercayaiku...unconditionally!!! Hari giniii... Ntah apa alasannya, mungkin karena aku terlihat maaf... ehmm... jujur.
Malam itu, setelah si mime berganti ban dalam dan ready to go, aku berpamitan ke Mang tambal ban, dan memacu si Mime kembali untuk pulang. Sepanjang perjalanan tidak lepasnya aku mengucapkan syukur, dan kisah ini tak kan ku lupa sepanjang hidupku. Sekali lagi, "Makasih...Mang!"
*) Mime : mio merah
Setelah melewati 3/4 rute pulang, tiba-tiba bagian belakang si mime agak terasa bergoyang, seketika aku menyadari kalo ban belakangnya bocor. Aku memperlambat laju si mime dan menepi untuk melihat sekeliling barangkali menemukan tukang tambal ban, dan ternyata nihil. Tak lama kemudian, ada seorang bapak keluar dari dalam rumah menghampiriku, mungkin karena dia melihat aku kebingungan. Dia pun bertanya apakah aku mencari sesuatu atau sesiapa. Aku memberitahu dia bahwa aku sedang mencari tambal ban. Dia menunjuk ke suatu tempat yang....Alhamdulillah tidak jauh dari tempatku berada. Setelah mengetahui tempat tersebut, aku memutar arah dan dengan pelan menuju tempat tambal ban setelah berpamitan dan tidak lupa say thank u.
Setibanya disana, aku langsung memarkirkan si mime dalam antrian yang tidak panjang (tentu saja karena cuma ada satu motor yang bannya sedang ditambal). Tak lama kemudian giliran si mime yang ditambal. Si Mang dengan sigapnya membongkar ban dalam mime, dan memeriksa kebocoran yang dialaminya. Hasil pemeriksaan menunjukan banyak sekali bocor yang ada di ban dalamnya akibat tertusuk paku dan ban dalam terlipat. Setelah mengetahui hal itu, aku tahu bahwa tak ada gunanya menambal ban dalam karena seharusnya ban dalam tersebut diganti. Aku mengemukakan keinginanku untuk mengganti ban dalam, dan Alhamdulillah si Mang mempunyai stok ban dalam mio karena biasanya jarang ditemukan tempat tambal ban yang menyediakan ban dalam mio. Kemudian aku menanyakan harganya, dan aku agak tercengang...karena uang yang aku punyai kurang untuk membayarnya. What should I do?
Tanpa berpikir lama, aku meminta si Mang agar memasang dulu ban dalam nya dengan menyerahkan selembar uang 20rb an dan meminta izinnya untuk berhutang dulu dengan menjanjikan sisa hutangku akan dibayar besok pagi saat aku pulang kerja (agak memelas...). Dan Si Mang mempercayaiku...unconditionally!!! Hari giniii... Ntah apa alasannya, mungkin karena aku terlihat maaf... ehmm... jujur.
Malam itu, setelah si mime berganti ban dalam dan ready to go, aku berpamitan ke Mang tambal ban, dan memacu si Mime kembali untuk pulang. Sepanjang perjalanan tidak lepasnya aku mengucapkan syukur, dan kisah ini tak kan ku lupa sepanjang hidupku. Sekali lagi, "Makasih...Mang!"
*) Mime : mio merah
Subscribe to:
Posts (Atom)