Thursday, July 9, 2009

OCOM… IWIL…



Apa yang biasanya kita pilih untuk menu sarapan? Setiap orang memunyai menu sarapan favorit yang berbeda tentunya. 

Tipe menu sarapan pastinya yang simpel alias tidak terlalu susah untuk membuatnya, dikarenakan waktu untuk bersiap di pagi hari sebelum beraktivitas merupakan waktu yang sangat singkat. 

Meskipun simpel, menu sarapan hendaknya bergizi tinggi dengan kandungan karbohidrat yang paling banyak. Jumlah kandungan karbohidrat dalam sarapan kita dapat membuat kita bertenaga selama menjalani aktifitas dari pagi hingga siang hari.


Ada yang membuat nasi goreng, ada yang sarapan paginya dengan roti dan telur dadar, ada juga yang membeli dari pedagang yang lewat . Seperti nasi kuning, nasi uduk, atau pun bubur ayam. 

Minggu pagi dua hari yang lalu, aku sendiri membeli nasi kuning dan bubur ayam untuk sarapan keluargaku di rumah. Kita di rumah sudah punya langganan penjual nasi kuning. Kita memanggilnya Mamah Enok. Beliau ini sudah kurang lebih dua puluh tahun berjualan nasi kuning. Ibu 5 anak ini telah dikaruniai beberapa cucu, sementara suaminya sudah lama meninggal. Ia berjualan nasi kuning dibantu oleh anak bungsu dan menantunya. 

Pagi itu selain nasi kuning dan bubur ayam, aku juga memesan panganan lain seperti bala-bala dan ulen. Karena kedua panganan ini paling enak dimakan hangat-hangat, Iin anak bungsu Mamah Enok menggorengnya mendadak. Sehingga, pagi itu aku lalui dengan menunggui Iin yang sedang menggoreng bala-bala dan ulen sambil mengobrol dengannya. Sementara Mamah dan Lia- sang menantu- melayani pembeli yang lain.


Keseharian Iin selain membantu ibunya pagi hari untuk berjualan, ia aktif di organisasi PKK dan diandalkan oleh Ibu istri Kepala Desa kami untuk menjalankan beberapa program yang berkaitan dengan masalah kesejahteraan keluarga. 

Kegiatan terakhirnya membantu survey salah satu lembaga luar yang bernama Helen Keller. Lembaga ini melakukan survey penelitian pada beberapa balita di daerah Bandung Selatan secara acak. Kebetulan, keponakannya yang bernama Akeda Qolby Bill Imani yang sering dipanggil Abil menjadi salah seorang yang di-survey. O iya nama panjang Abil itu adalah nama hasil pemikiran aku dan kakakku. J (Narsisnyaaa…wkwkwkwk) .


Abil ini cucu Mamah dari anak ke-3 nya yang menikah dengan Lia. Dengan kata lain, Abil ini anaknya Lia yang sering membantu Mamah berjualan. Selama anak bungsunya itu masih terlelap, Lia dapat membantu Mamah berjualan dengan santai. Saat aku dan Iin bercerita tentang Abil yang menjadi objek survey lembaga Helen Keller, Abil masih terlelap dalam tidur.

Namun, tak lama berselang, ia berteriak memanggil-manggil mamanya dari dalam rumah dengan "Mah…Ocom… Iwil.." . Mendengar Abil berteriak aku sedikit tertawa, padahal aku sama sekali tidak tahu apa yang dimaksud dengan Ocom Iwil. Mungkin karena terasa geli saja mendengarnya. 

Aku bertanya apa itu Ocom –Iwil. Iin bilang dia ingin makan roti dan susu. "Apa hubungannya roti-susu dengan ocom iwil, nyambung saja enggak?" Demikian aku tanyakan kepada Iin. Iin kemudian menjelaskan, kalau yang dimaksud Abil itu adalah

"Clom Giriwil", atau roti yang dimakan dengan cara mencelupkan roti terlebih dahulu ke dalam susu. Clom dari kata anclom yang dalam bahasa sunda berarti mencelupkan, sedangkan Giriwil itu satu istilah dalam bahasa sunda untuk menggambarkan keadaan untuk sesuatu yang baru muncul karena baru diangkat. 

Clom Giriwil barangkali tidak berbeda jauh dengan cara makan biskuit ala Riza, diputar ,dijilat,dicelupin. Mendengar penjelasan Iin, aku langsung tertawa terbahak-bahak. Ada-ada saja istilahnya. Rupanya Abil ini juga ingin sarapan pagi itu dengan menu favoritnya. Hahaha


Barangkali, Anda bisa menambahkan Ocom Iwil ala Abil ini menjadi salah satu alternatif menu sarapan di pagi hari?

Tuesday, April 7, 2009

FOKKER dalam kenangan


Kemarin sore sekitar pukul 3 sore, tanggal 6 April 2009. Saat aku sedang berada di depan computer kantor , pintu ruangan terbuka. Rupanya messenger kami bernama Pak Abdul baru saja tiba dari tugasnya mengirimkan dokumen ke salah satu leasing yang ada di Jl. Dr. Djunjunan Bandung. Hujan deras sedang mengguyur kantor kami di jalan Abdurahman Saleh. Seperti biasa, setelah mengantar dokumen Pak Abdul menyerahkan beberapa tanda terima kepada kami (aku dan teman kerjaku Fitri), sambil terkadang bercerita tentang pengalaman yang dia lalui saat mengantar dokumen. Ia bercerita bahwa ada pesawat yang terbakar di hangar Lanud Husein Sastranegara. Jalan sepanjang hangar ini memang terkadang dilewati untuk kendaraan umum yang berasal dari jalan Pasteur atau yang akan menuju jalan Pasteur dari jalan Padjadjaran, karena track jalan ini terhitung pendek dan tidak macet. Berbeda dengan jalan yang umumnya kita lewati yaitu Jalan Pajajaran - Pasirkaliki.
Ketika Pak Abdul menceritakan kejadian itu, kami sama sekali tidak merasa penasaran dengan berita tersebut. Kami kira itu hanya insiden biasa. Hingga saat aku hendak pulang, aku melongok berita di televisi sejenak. Ternyata kejadian tersebut cukup membuat sebagian besar media yang beberapa waktu yang lalu memberitakan bencana Situ Gintung mengalihkan fokusnya ke tragedi Fokker 27. Saat itu jumlah korban belum diketahui dengan pasti, karena pihak TNI AU masih dalam proses evakuasi dan penyelidikan. Terakhir diberitakan seluruh penumpang dan awak pesawat tewas sebanyak 24 orang. Terdiri atas 6 awak dan 18 paskhas dan siswa diklat para lanjut Tempur TNI AU. Dikabarkan pula bahwa ke-24 awak dan penumpang pesawat itu sedang dalam misi penerjunan.
Aku agak sedikit heran, kenapa kami yang berada tidak jauh dari tempat kejadian tidak merasa mendengar adanya suara tabrakan atau adanya kesibukan terjadi. Bahkan jalan abdurahman saleh yang dekat dengan gerbang pangkalan Lanud Husein pun tidak terlihat adanya kemacetan. Memang, sebagaimana diberitakan di media, informasi mengenai detail kecelakaan itu sangat tertutup. Kemudian proses evakuasi terhitung cepat dilaksanakan. Wallahu a’lam.
Akibat adanya kecelakaan tersebut, aku jadi terkenang akan masa kanak-kanakku 18 tahun yang lalu. Mungkin aku perlu berbangga hati. Aku sempat menaiki salah satu pesawat Fokker milik TNI AU, bersama adikku Zaky. Kesempatan itu kami berdua dapatkan karena bapakku dahulu bekerja sebagai karyawan PNS TNI AU di Lanud Sulaiman. Bapakku mungkin tidak dapat memberikan kami tiket pesawat terbang untuk berlibur ke tempat-tempat asyik, tapi dengan kesempatan yang diberikan kepada kami ini, aku sendiri merasa istimewa.
Saat itu malam hari. Kami lepas landas dari Lanud Husein Sastranegara. Pesawat Fokker mengangkut satu kelompok siswa taruna TNI AU untuk latihan terjun. Mungkin tujuannya hampir sama dengan pesawat Fokker yang jatuh kemarin. Rasanya takjub sekali karena itu kali pertama kami naik pesawat. Apalagi saat taruna satu persatu diturunkan. Berbeda dengan kami yang saat itu merasa takjub, mungkin para taruna malah merasa deg-deg an. Aku lihat, sebelum seorang taruna terjun, para pelatih memastikan mental mereka dulu dengan membiarkan mereka berdiri di bibir pintu pesawat dan melihat ke bawah. Sungguh menegangkan. Baru setelah siap, mereka terjun satu persatu. Adikku yang penasaran melihat proses itu, menggeser posisi duduknya agak ke tengah. Melihat hal itu, bapakku menariknya ke tepi, tepat di bagian belakang dekat pilot. Kalau ia duduk agak ke tengah, takutnya ia tersedot ke luar.
Aku jadi berpikir, apa naiknya kami ke pesawat Fokker itu melanggar aturan atau tidak ya? Nah, kalau saja terjadi kecelakaan seperti kemarin, dan kita berada di dalamnya, apa tidak akan menjadi pembicaraan di media massa? Sekali lagi. Wallahu a’lam.