Saturday, February 23, 2008

Lagi Gak Banget...

Semalam aku mendapat SMS dari temanku yang mengeluh dengan kondisi yang ada di tempat kerjanya. Dia mengeluh tentang karyawan di tempat kerjanya, yang makan gaji buta alias mau duitnya saja, tetapi kerja ? belum tentu. Hal ini buat dia tidak betah dan ingin sekali untuk keluar dari tempat dia bekerja.

Hari ini, teman-teman di kantor mengeluh akan atasan kami yang baru. Karena sifatnya yang agak temperamental tidak dapat diterima oleh teman-temanku. Hal ini membuat mereka tidak betah. Sehingga timbul pikiran untuk tidak lagi melanjutkan pekerjaan.

Kakakku sering bercerita tentang situasi kantornya yang sedang mengalami krisis. Mulai dari efisiensi karyawan, kecurangan-kecurangan, tawaran-tawaran pekerjaan dari tempat lain yang menggiurkan, hingga hampir kehilangan figur pemimpin di perusahaan. Hal ini buat situasi tidak betah, tetapi kakakku tetap bekerja disana.

Aku pernah merasakan hal yang sama. Pekerjaan yang menumpuk yang semuanya terasa penting, hingga kadang ingin menangis sendiri. Sudah mengerjakan dengan maksimal, tetapi merasa tidak dihargai. Hal ini buat ga betah, dan apakah aku ingin pindah?

Pindah, itu ada dalam benakku. Tetapi bukan karena hal sedemikian. Yang pasti, dimanapun kita bekerja akan selalu menemukan ketidakcocokkan dengan teman kerja ataupun atasan. Dimanapun! Bagi yang mengalami krisis seperti ini ada baiknya sikap EGP diterapkan, dan sikap SERSAN diterapkan juga. Karena jika kita terlalu sering memikirkan bagaimana cara merubah ketidakcocokkan menjadi cocok, jadinya akan capek sendiri. Yang penting adalah dalam bekarja kita harus menampilkan sesuatu yang maksimal. Aku kagum pada kakakku, karena no matter what happen, baginya bekerja di perusahaan sekarang adalah sebuah perjuangan, dan setiap kendala dijadikannya pelajaran untuk menjadi dewasa, dan aku sendiri sering berkata kepada diri sendiri "Masa baru segitu aja sudah nyerah!".

So, jikalau anda pernah merasakan "gak banget". Ada baiknya cara di atas diterapkan, dan semoga lekas sembuh...hehehe

Sunday, December 23, 2007

Punclut yang bikin ciut!

Punclut alias puncrut begitu orang Bandung sering bilang adalah nama satu tempat di utara kota Bandung. Kalau tidak salah, pernah salah satu TV swasta meliput tempat ini. Aku sendiri hampir lupa-lupa ingat. Seingatku, waktu aku masih SD pernah berkunjung kesana. Itu pun tujuan sebenarnya bukan maen, melainkan ikut babe nemenin mama yang waktu itu diopname di Rumah Sakit TNI AU Salamun.

Malem minggu ini (hiks...) aku diajak temenku nginep di daerah Ledeng. Dia berencana untuk jalan2 pagi keesokan harinya ke Puncrut by foot dari Ledeng. Setahuku jauh banget perjalanan dari Ledeng ke Puncrut. Dia bilang, katanya ada jalan tembus dari Ledeng. Masuk akal juga, karena Ledeng juga terletak di utara kota Bandung. Jika melalui jalan besar, rute yang kan kita lalui akan membentuk huruf U. Dilandasi rasa penasaran akan rupa Puncrut saat ini, aku mengamini ajakan temanku.

Pagi ini kita menyusuri jalan, dimulai dari jalan sersan surip (jalan kecil sebelah terminal Ledeng). Karena ini adalah perjalanan temanku untuk pertama kalinya, hampir setiap orang di tiap persimpangan jalan dia tanyai untuk mendapatkan jalan yang benar. Ternyata, jauh sekali. Setelah beberapa lama kita menyusuri jalan, kita baru ngeh kalo jalan yang kita lalui ternyata berbelok-belok seperti gelombang sinusoid (alah...). Yang berarti kita sebenarnya tidak melalui jalan pintas tetapi malah jalan yang panjang. Weleh...weleh...

Sepanjang perjalanan, ada kita temui jalan mendaki adapula jalan menurun dan mendatar (seperti hidup...). Ada juga kita dapati jalan dengan tanah yang lekat seperti lumpur, yang membuat kita berjalan pelan agar tidak terpeleset. Walaupun begitu, kaki kita tetap saja tidak bisa remain clean, karena tanah lekat mengotori kaki kita. Untungnya di depan, ada kita temukan tempat untuk membersihkan kaki. Di tempat itu ada beberapa selang yang menempel pada dinding, di atasnya ada botol-botol plastik bekas air minum kemasan untuk menampung air. Awalnya aku gak ngerti gunanya botol plastik di ujung selang. Setelah aku susuri ternyata air yang mengalir ini berasal dari selang-selang sebelumnya, sedangkan asal air itu dari mana, sampai saat ini aku belum tahu. Karena yang buat aku penasaran juga, aku lihat kemudian sepanjang jalan banyak kulihat selang-selang kecil sambung menyambung. Salah satu ujung ada yang tertanam ke dalam tanah kemudian aku temui ada selang yang menyembul dari tanah. Apakah itu sambungan dari selang sebelumnya, aku sendiri gak tahu karena sambungan selang - selang itu tidak hanya satu sambungan, tetapi banyak sambungan yang terkumpul seperi helai-helai rambut. Yang pasti, penduduk di daerah itu sangat mengandalkan air dari satu sumber alias tidak mempunyai sumber air di rumah sendiri seperti kebanyakan penduduk kota.

Jika mendengar Puncrut temanku sering membayangkan dia akan mendapati sebuah bukit dimana dia akan menghirup udara segar dengan pemandangan gunung-gunung terhampar luas dan aku sendiri membayangkan dapat melihat kota Bandung dari atas Puncrut. Di luar dugaan, ternyata Puncrut dipenuhi pedagang-pedagang mingguan yang bisa kita jumpai di tempat lain seperti Gazeeboo. Pedagang tumpah ruah di setiap sisi jalan menanjak yang kita lalui. Walaupun demikian, kita tidak patah semangat untuk melanjutkan Ekspedisi Puncrut ini (Cie...harusnya masuk Jejak Petualang neh... )

Setelah beberapa lama sambil melihat barang dagangan di sekitar, kita tidak menemukan secercahpun harapan yang telah kita bayangkan. Karena sudah lelah akhirnya kita berhenti untuk beristirahat dan makan. Aku sedikit berbasa-basi dengan Ibu pedagang makanan, menanyakan apa yang kira-kira akan kita temukan selanjutnya. Ternyata kita tidak akan menemukan pemandangan yang aku bayangkan ataupun bukit yang dibayangkan temanku. Aku masih ingat kata ibu itu "Ah, neng teu aya nanaon dugi kaluhur mah. Upami Nu icalan, seueur!" Seketika lidahku tercekat, dan menoleh ke temanku yang sedang duduk agak jauh dari tempatku mengobrol dengan ibu pedagang. "Bo, di atas mah ga da pa pa. Abis makan kita pulang aja, yuk" (Padahal mah dah pengen pulang dari tadi karena capek...hihi).

Akhirnya kita pulang dengan hati yang menciut karena mengharapkan sesuatu yang ternyata jauh dari realita.