Sunday, December 23, 2007

Punclut yang bikin ciut!

Punclut alias puncrut begitu orang Bandung sering bilang adalah nama satu tempat di utara kota Bandung. Kalau tidak salah, pernah salah satu TV swasta meliput tempat ini. Aku sendiri hampir lupa-lupa ingat. Seingatku, waktu aku masih SD pernah berkunjung kesana. Itu pun tujuan sebenarnya bukan maen, melainkan ikut babe nemenin mama yang waktu itu diopname di Rumah Sakit TNI AU Salamun.

Malem minggu ini (hiks...) aku diajak temenku nginep di daerah Ledeng. Dia berencana untuk jalan2 pagi keesokan harinya ke Puncrut by foot dari Ledeng. Setahuku jauh banget perjalanan dari Ledeng ke Puncrut. Dia bilang, katanya ada jalan tembus dari Ledeng. Masuk akal juga, karena Ledeng juga terletak di utara kota Bandung. Jika melalui jalan besar, rute yang kan kita lalui akan membentuk huruf U. Dilandasi rasa penasaran akan rupa Puncrut saat ini, aku mengamini ajakan temanku.

Pagi ini kita menyusuri jalan, dimulai dari jalan sersan surip (jalan kecil sebelah terminal Ledeng). Karena ini adalah perjalanan temanku untuk pertama kalinya, hampir setiap orang di tiap persimpangan jalan dia tanyai untuk mendapatkan jalan yang benar. Ternyata, jauh sekali. Setelah beberapa lama kita menyusuri jalan, kita baru ngeh kalo jalan yang kita lalui ternyata berbelok-belok seperti gelombang sinusoid (alah...). Yang berarti kita sebenarnya tidak melalui jalan pintas tetapi malah jalan yang panjang. Weleh...weleh...

Sepanjang perjalanan, ada kita temui jalan mendaki adapula jalan menurun dan mendatar (seperti hidup...). Ada juga kita dapati jalan dengan tanah yang lekat seperti lumpur, yang membuat kita berjalan pelan agar tidak terpeleset. Walaupun begitu, kaki kita tetap saja tidak bisa remain clean, karena tanah lekat mengotori kaki kita. Untungnya di depan, ada kita temukan tempat untuk membersihkan kaki. Di tempat itu ada beberapa selang yang menempel pada dinding, di atasnya ada botol-botol plastik bekas air minum kemasan untuk menampung air. Awalnya aku gak ngerti gunanya botol plastik di ujung selang. Setelah aku susuri ternyata air yang mengalir ini berasal dari selang-selang sebelumnya, sedangkan asal air itu dari mana, sampai saat ini aku belum tahu. Karena yang buat aku penasaran juga, aku lihat kemudian sepanjang jalan banyak kulihat selang-selang kecil sambung menyambung. Salah satu ujung ada yang tertanam ke dalam tanah kemudian aku temui ada selang yang menyembul dari tanah. Apakah itu sambungan dari selang sebelumnya, aku sendiri gak tahu karena sambungan selang - selang itu tidak hanya satu sambungan, tetapi banyak sambungan yang terkumpul seperi helai-helai rambut. Yang pasti, penduduk di daerah itu sangat mengandalkan air dari satu sumber alias tidak mempunyai sumber air di rumah sendiri seperti kebanyakan penduduk kota.

Jika mendengar Puncrut temanku sering membayangkan dia akan mendapati sebuah bukit dimana dia akan menghirup udara segar dengan pemandangan gunung-gunung terhampar luas dan aku sendiri membayangkan dapat melihat kota Bandung dari atas Puncrut. Di luar dugaan, ternyata Puncrut dipenuhi pedagang-pedagang mingguan yang bisa kita jumpai di tempat lain seperti Gazeeboo. Pedagang tumpah ruah di setiap sisi jalan menanjak yang kita lalui. Walaupun demikian, kita tidak patah semangat untuk melanjutkan Ekspedisi Puncrut ini (Cie...harusnya masuk Jejak Petualang neh... )

Setelah beberapa lama sambil melihat barang dagangan di sekitar, kita tidak menemukan secercahpun harapan yang telah kita bayangkan. Karena sudah lelah akhirnya kita berhenti untuk beristirahat dan makan. Aku sedikit berbasa-basi dengan Ibu pedagang makanan, menanyakan apa yang kira-kira akan kita temukan selanjutnya. Ternyata kita tidak akan menemukan pemandangan yang aku bayangkan ataupun bukit yang dibayangkan temanku. Aku masih ingat kata ibu itu "Ah, neng teu aya nanaon dugi kaluhur mah. Upami Nu icalan, seueur!" Seketika lidahku tercekat, dan menoleh ke temanku yang sedang duduk agak jauh dari tempatku mengobrol dengan ibu pedagang. "Bo, di atas mah ga da pa pa. Abis makan kita pulang aja, yuk" (Padahal mah dah pengen pulang dari tadi karena capek...hihi).

Akhirnya kita pulang dengan hati yang menciut karena mengharapkan sesuatu yang ternyata jauh dari realita.

Tuesday, November 27, 2007

Terima Kasih... Mang!

Suatu malam, aku mengendarai "mime" ku yang sebentar lagi lunas ! Saat itu, aku memacu si mime dengan kecepatan yang tinggi (menurut ukuranku) agar segera sampai di rumah karena malam sudah semakin larut. Aku tidak banyak mengalami hambatan karena jalan yang ku lalui tampak lengang, tentu saja...



Setelah melewati 3/4 rute pulang, tiba-tiba bagian belakang si mime agak terasa bergoyang, seketika aku menyadari kalo ban belakangnya bocor. Aku memperlambat laju si mime dan menepi untuk melihat sekeliling barangkali menemukan tukang tambal ban, dan ternyata nihil. Tak lama kemudian, ada seorang bapak keluar dari dalam rumah menghampiriku, mungkin karena dia melihat aku kebingungan. Dia pun bertanya apakah aku mencari sesuatu atau sesiapa. Aku memberitahu dia bahwa aku sedang mencari tambal ban. Dia menunjuk ke suatu tempat yang....Alhamdulillah tidak jauh dari tempatku berada. Setelah mengetahui tempat tersebut, aku memutar arah dan dengan pelan menuju tempat tambal ban setelah berpamitan dan tidak lupa say thank u.

Setibanya disana, aku langsung memarkirkan si mime dalam antrian yang tidak panjang (tentu saja karena cuma ada satu motor yang bannya sedang ditambal). Tak lama kemudian giliran si mime yang ditambal. Si Mang dengan sigapnya membongkar ban dalam mime, dan memeriksa kebocoran yang dialaminya. Hasil pemeriksaan menunjukan banyak sekali bocor yang ada di ban dalamnya akibat tertusuk paku dan ban dalam terlipat. Setelah mengetahui hal itu, aku tahu bahwa tak ada gunanya menambal ban dalam karena seharusnya ban dalam tersebut diganti. Aku mengemukakan keinginanku untuk mengganti ban dalam, dan Alhamdulillah si Mang mempunyai stok ban dalam mio karena biasanya jarang ditemukan tempat tambal ban yang menyediakan ban dalam mio. Kemudian aku menanyakan harganya, dan aku agak tercengang...karena uang yang aku punyai kurang untuk membayarnya. What should I do?

Tanpa berpikir lama, aku meminta si Mang agar memasang dulu ban dalam nya dengan menyerahkan selembar uang 20rb an dan meminta izinnya untuk berhutang dulu dengan menjanjikan sisa hutangku akan dibayar besok pagi saat aku pulang kerja (agak memelas...). Dan Si Mang mempercayaiku...unconditionally!!! Hari giniii... Ntah apa alasannya, mungkin karena aku terlihat maaf... ehmm... jujur.

Malam itu, setelah si mime berganti ban dalam dan ready to go, aku berpamitan ke Mang tambal ban, dan memacu si Mime kembali untuk pulang. Sepanjang perjalanan tidak lepasnya aku mengucapkan syukur, dan kisah ini tak kan ku lupa sepanjang hidupku. Sekali lagi, "Makasih...Mang!"

*) Mime : mio merah

Monday, October 29, 2007

I Liu Pa

Selama saya bekerja di perusahaan penjualan kendaraan, banyak saya amati hal-hal yang diluar dugaan saya hal-hal tertentu masih berlaku. Seperti bila customer menginginkan no. polisi tertentu agar terdaftar di kendaraan yang akan dibelinya. Biasanya no. pol yang diinginkan customer tidak jauh dari hal-hal berikut :

1. No. pol yang bisa dibaca.
Kita sudah tidak asing lagi untuk hal yang satu ini. Pernah lihat no. pol 84 MS? yang menempel di Mercy-nya Bam Samson? atau 170 NK, kepunyaannya Jonathan Fritzy?

2. No.pol yang mempunyai inisial tertentu.
Misalnya B 1 RI, punya orang No. 1 Republik Indonesia, alias babeh presiden.

2. No. pol ada angka 9.
Termasuk juga saudara-saudaranya 99, 999, atau boleh jadi empat angka yang salah satunya ada angka 9. Konon angka 9 merupakan angka sempurna dan angka yang membawa keberuntungan dan kesuksesan . Selain angka sembilan angka 8 dan angka 7 juga, ada beberapa yang mengatakan bawa hoky, seperti "Lucky Seven".

3. No.pol anti angka 13 atau 4. Banyak yang percaya angka 13 adalah angka sial sama dengan 4, dimana 1 + 3 = 4. Banyak juga customer yang masih percaya kesialan angka 13 dan 4, apa...dosa mereka coba? hehehe.. Ada yang bilang juga kalo angka 4 kalo dibaca dalam bahasa mandarin artinya mati!! Waw..

4. Angka 178 atau 168
Pada awalnya saya ga ngerti kenapa juga ada customer yang suka dengan angka ini. Ada yang bilang angka 178, seperti yang terlihat adalah angka yang menanjak alias semakin membesar. Kalo mobil dengan no.pol tersebut dipakai untuk usaha, itu artinya usahanya akan terus meningkat, seperti no. pol yang terdapat di mobilnya.
Kalo angka 168, mungkin saja filosofinya sama dengan angka 178, tapi ternyata nomor ini bisa dibaca. 168 bila dibaca dalam bahasa mandarin (lagi-lagi mandarin) adalah I Liu Pa, yang berarti "Jalan menuju sukses". Kalo dipikir-pikir boleh juga angka 168 ini...Seperti D 168 NH..Hehe

Monday, August 6, 2007

INDONESIA RAYA

Tanggal 17 Agustus sebentar lagi datang. Bermacam-macam sikap bangsa Indonesia untuk menyambut HUT RI yang ke-62 ini. Yang paling bersemangat adalah anak-anak muda yang menjadi panitia HUT RI, kita bisa lihat di tengah jalan anak-anak muda yang menjual minuman gelas dalam rangka mencari dana. Ada pula yang ramai berdiskusi. Nah loh?



Baru-baru ini pakar telematika Roy Suryo mempublikasikan temuannya yaitu rekaman asli lagu Indonesia Raya yang terdiri dari 3 Stanza. Rekaman itu ia dapatkan dari sebuah museum di Belanda. Konon, rekaman ini dibuat oleh seorang berasal dari China berdasarkan pesanan orang Indonesia (aku lupa siapa dia, atau mungkin saja WR supratman sendiri). Media ramai membahas tentang temuannya ini. Ada yang memberikan tanggapan, salah satunya Des Alwi pakar sejarah sekaligus anak angkatnya Bung Hatta.



Terlepas dari semua diskusi tentang lagu Indonesia Raya temuan Roy Suryo, ada satu pernyataan dia yang membuatku penasaran, tentang asal muasal kenapa rekaman lagu Indonesia Raya bisa berada di Museum Belanda itu. Ternyata dahulu pada masa peralihan penjajahan Belanda ke jepang,dokumentasi-dokumentasi sejarah Indonesia dibawa ke Belanda termasuk rekaman lagu Indonesia Raya tersebut. Kira-kira dokumentasi sejarah yang mana lagi yang berada disana? Pasti banyak hal-hal yang menguntungkan bangsa Belanda saat itu sehingga dokumentasi sejarah bangsa kita dibawa ke negeri Belanda. Apa mungkin, peta harta karun ? Hmmm, bisa saja..

Apa yang kan kita lakukan selanjutnya?

Tuesday, July 3, 2007

Antara Wudlu dan Tayamum

Kadang kita sering bertanya-tanya "mengapa untuk bersuci saat tiada air di sekitar kita, kita dapat menggunakan debu yang menempel di tempat-tempat sekitar kita? apakah tidak menjadi lebih kotor?". Ternyata secara kimia, debu yang kita gunakan untuk bersuci mempunyai sifat yang sama dengan air. Yaitu sama-sama dapat menghilangkan kotoran yang menempel pada bagian-bagian anggota wudlu atau tayamum. Imagine that!.

Thursday, June 21, 2007

Cita-Cita

Berbicara tentang cita-cita, pasti berbicara tentang apa yang kan kita lakukan di masa depan. Masalahnya, hingga saat ini bila kita playback, merenungi langkah2 yang telah kita lakukan. Apakah langkah kita saat ini sudah berada di rel yang benar agar cita2 kita tercapai? Apakah karunia Allah yang telah kita dapat sekarang ini perlu kita lepaskan hanya karena tidak berada pada rel cita2 kita?
Cita-cita ku : menjadi seorang guru yang berwiraswasta dan menghasilkan sebuah tulisan yang berguna untuk anak-anak bangsa masa depan. Mungkinkah jika di usia mau memasuki kepala tiga, aku sama sekali belum memulai langkah itu. Dan masih menyukuri apa yang telah Allah anugerahkan kepadaku, sebagai karyawati di perusahaan swasta? Tidak terlambatkah?
Aku sadari aku harus memulai suatu langkah, tapi aku sendiri terkadang tidak tahu harus mulai dari mana. Apa dengan meninggalkan apa yang telah aku dapatkan selama ini?